LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN USAHATANI
ANALISIS USAHATANI KACANG PANJANG
(Studi Kasus di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang)
Ditujukan Sebagai Prasyarat Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Manajemen Usahatani
Disusun Oleh:
KELOMPOK 1
Anissa Putri Pradita
Fitriana Ayu Puspitasari
Ihsaniyah
Latifatul Asmal
Siti Munawaroh
JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERISTAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
BANTEN
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan praktikum mata kuliah “Manajemen Usahatani” .
Dalam menyusun laporan ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang penulis alami. Namun, berkat dukungan, dorongan, motivasi dan semangat dari orang-orang terdekat, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum ini.
Penulis berharap semoga laporan ini dapat membantu menambah informasi, ilmu, dan juga pengetahuan pembaca mengenai analisis usahatani komoditi kacang panjang.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan pratikum ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna, baik itu dari segi sistematika penulisan, bahasa, atau bahkan isi dari laporan pratikum ini sendiri. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan, agar kedepannya penulisan laporan pratikum ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih banyak dan semoga laporan pratikum ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya.
Serang, Desember 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kacang Panjang
2.2. Konsep Usahatani
2.3. Pemilihan Cabang Usahatani
2.4. Analisis Pendapatan Usahatani
2.5. Analisis Penerimaan Atas Biaya (R/C Ratio)
2.6. Teori Produksi
2.7. Konsep Pasar
2.8. Konsep Permintaan
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu Pelaksanaan
3.2. Tempat Pelaksanaan Praktikum
3.3. Metode Pengumpulan Data
3.4. Subyek Praktikum
BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Modal Usahatani
4.2. Analisis Biaya Usahatani
4.3. Analisis Pendapatan dan Keuntungan Usahatani
4.4. Analisis Titik Impas Pulang Modal (BEP)
4.5. Analisis Kelayakan Usaha Tani (B/C Ratio)
BAB IV PENUTUP
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pertanian merupakan aspek penting dalam membangun perekonomian Indonesia. Ini diwujudkan dalam sektor agribisnis yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Kegiatan usahatani sendiri merupakan bagian dari sektor agribisnis yang mengorganisasikan alam, kerja, dan modal yang ditujukan kepada produksi di bidang pertanian (Rifa’I, 1960)
Indonesia merupakan negara agraris sehingga pertanian merupakan salah satu sektor penting bagi negara tersebut. Sebagian besar penduduk Indonesia bermatapencarian pada bidang pertanian. Namun, mayoritas penduduk Indonesia tidak bekerja sebagai petani besar melainkan sebagai petani kecil. Petani di Indonesia memperoleh pendapatan yang relatif rendah tetapi dalam melaksanakan serta mengelola usaha taninya setiap petani memiliki cara sendiri. Untuk mengetahui pengelolahan suatu usahatani yang dilakukan oleh seorang petani maka diperlukan suatu pengamatan atau analisis terhadap usahatani yang dijalankan oleh seorang petani.
Hasil pengamatan dan analisis terhadap seorang petani yang telah kami lakukan ini demi memenuhi tugas pratikum manajemen usahatani yang menganalisis tentang usahatani yang dimiliki oleh Bapak Karmin seorang petani kacang panjang di Kelurahan Banjar Sari, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang.
Latar belakang kami memilih usahatani Bapak Karmin sebagai petani responden kami karena aksesnya yang mudah dijangkau. Selain itu Bapak Karmin merupakan petani yang mampu mencukupi kebutuhan keluarganya dari hasil pertanian.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka rumusan masalah pada pratikum ini adalah:
Bagaimana analisis biaya usahatani?
Berapa pendapatan dan keuntungan petani yang diperoleh?
Berapa BEP volume produksi usahatani tersebut?
Berapa BEP harga produksi dari usahatani tersebut?
Bagaimana analisis kelayakan usaha tani (B/C ratio) pada usahatani tersebut?
1.3. Tujuan
Berdasarkan identifkasi masalah tersebut, maka tujuan dari pratikum ini adalah:
- Mengidentifikasi analisis biaya usahatani.
- Mengidentifikasi pendapatan dan keuntungan petani yang diperoleh.
- Mengidentifikasi BEP volume produksi usahatani tersebut.
- Mengidentifikasi BEP harga produksi dari usahatani tersebut.
- Mengidentifikasi analisis kelayakan usaha tani (B/C ratio) pada usahatani tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kacang Panjang
2.1.1. Klasifikasi Kacang Panjang
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Upafamili : Faboideae
Genus : Vigna
Spesies : V. unguiculate
Upaspesies : V. u. sesquipedalis
Nama trinomial : Vigna unguiculata sesquipedalis (L.)Verdc.
2.1.2. Morfologi Kacang Panjang
Secara morfologi, bagian atau organ-organ penting tanaman kacang panjang yaitu akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji.
1. Akar tanaman
Tanaman akar panjang berakar tunggang dan berakar serabut. Akar tunggangnya tumbuh lurus ke dalam hingga mencapai kedalaman 30 cm, sedangakan akar serabutnya tumbuh menyebar kea rah samping (horizontal) dan tidak dalam. Panjang akar serabut mencapai 26 cm.
2. Batang
Batang tanaman kacang panjang memiliki cirri-ciri liat, tidak berambut, berbentuk bulat, panjang, bersifat keras, dan berkuran kecil dengan diameter sekitar 0,6 cm-1 cm. Tanaman yang pertumbuhannya bagus, diameter batangnya dapat mencapai 1,2 cm lebih.
3. Daun
Daun kacang panjang merupakan daun majemuk yang bersusun tiga helaian. Daun berbentuk lonjong dengn ujung daun runcing (hampir segitiga). Tepi daun rata, tidak berbentuk, dan memiliki tulang-tulang daun yang menyirip. Kedudukan daun tegak agak mendatar dan memiliki tangkai utama.
Daun panjangnya antara 9 cm-13 cm dan panjang tangkai daun 0,6 cm. permukaan daun kasar, permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua, sedangkan permukaan daun bagian bawah berwarna lebih muda. Ukuran daun kacang panjang sangat bervariasi, yakni panjang daun antara 9 cm-15 cm dan lebar daun antara 5 cm-8 cm.
4. Bunga
Bunga tanaman kacang panjang tergolong bunga sempurna, yakni dalam sau bunga terdapat alat kelamin betina (putik) dan alat kelamin jantan (benang sari). Bunga memiliki tipe zygomorphus (bilateral simetri) dan memiliki bentuk menyerupai kupu-kupu (papilona cues).
Bunga terdiri atas tangkai bunga, kelopak bunga, mahkota bunga (daun mahkota), benang sari, dan kepala putik. Bunga tanaman kacang panjang memiliki dua tangkai, yakni tangkai utama dan tangkai bunga. Tangkai utama berbentuk panjang dan tidak bercabang, serta panjang antara 9 cm-13cm dengan diameter 2 mm. sedangakan tangkai bunga sangat pendek, dan panjangnya sekitar 3 mm.
5. Buah atau polong
Buah tanaman kacang panjang berbentuk bulat panjang dan ramping. Buah kacang panjang ini biasa disebut polong. Polong kacang panjang memiliki ukuran panjang bervariasi antara 30 cm-100 cm, bergantung pada jenis dan varietasnya.
Demikian pula warna polongnya juga bervariasi, antara putih dan putih kekuning-kuningan (polong tua), hijau, hijau muda, dan hijau keputih-putihan (polong muda), bergantung pada jenis dan varietasnya.
6. Biji
Biji kacang panjang berbentuk bulat panjang dan agak pipih, tetapi kadang-kadang juga terdapat sedikit melengkung. Biji yang telah tua memiliki warna yang beragam, yaitu kuning, cokelat, kuning kemerah-merahan, putih, hitam, merah, dan putih, bebercak merah (merah putih), bergantung pada jenis dan varietasnya. Biji memiliki ukuran besar (panjang x lebar), yaitu 8-9 mm x 5-6 mm.
2.1.3. Budidaya Kacang Panjang
1. Persiapan Lahan
Sebelum ditanami lahan dilakukan pembajakan dan digaru, untuk memperoleh struktur tanah yang gembur dan remah. Kemudian dibuat bedengan dengan ukuran 1-1,2 m atau dibentuk guludan dengan jarak antar guludan 1 m.
2. Penanaman
Kebutuhan benih kacang panjang 21 - 23 kg/ha, khusus untuk varietas KP-01 10,5 kg/ha karena jarak tanam KP-01 lebih besar dan berat bijinya lebih ringan. Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dibuatkan lubang tanam dengan cara ditugal dengan jarak dalam barisan 25 cm dan antar barisan 1 m. Perlubang tanam diisi 2 biji, hal ini dimaksudkan dalam satu lanjaran maksimal 4 tanaman. Setelah itu biji ditanam, ditutup dengan tanah/pupuk kandang yang sudah lembut/remah atau bisa juga dengan abu.
3. Pemeliharaan Tanaman
1) Pemupukan
Pemupukan pertama ( I ) dilakukan umur ± 12 hari dengan dosis ZA = 50 kg/ha, SP-36 = 100 kg/ha, KCL = 50 kg/ha. Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal, jaraknya 5 cm dari lubang tanam. Kemudian ditutup dengan tanah. Pemupukan kedua ( II ) dilakukan umur ± 28 hari dengan pupuk NPK = 200 kg/ha dengan jarak 10 cm dari lubang tanam. Pemupukan ketiga ( III ) dilakukan umur ± 40 hari juga dengan pupuk NPK = 200 kg/ha dengan jarak 10 cm dari lubang tanam.
2) Pemasangan Lanjaran
Pemasangan lanjaran dilakukan 10-15 hari setelah tanam ( hst ), kira-kira tinggi tanaman 15-25 cm. Pemasangan lanjaran diantara 2 lubang tanam sehingga jarak antar lanjaran 50 cm. Setiap 5 lanjaran perlu ditambah lanjaran/diperkuat, dengan cara dipasang silang.
3) Pemasangan Tali
Pemasangan tali dilakukan setelah pemasangan lanjaran selesai. Tali berguna membantu mengarahkan/merambatkan tanaman. Pemasangan tali ada dua tahap. Tahap I pada ketinggian ± 70 cm dari lanjaran. Tahap II pada ketinggian ± 150 cm dari lanjaran.
4) Merambatkan
Membantu merambatkan bertujuan untuk mengarahkan pertumbuhan tanaman baik pucuk tanamn maupun cabang-cabang tanaman. Diharapkan tanaman merambat pada lanjaran dan tali yang telah dipasang, sehingga buah/polong tidak tergeletak di tanah.
5) Penyiangan
Penyiangan dilakukan sebelum dilakukan pemupukan, atau dilakukan sewaktu-waktu saat gulma sudah mengganggu pertumbuhan tanaman.
6) Pengairan
Pengairan diberikan sesuai kebutuhan, yang terpenting dijaga agar tanaman tidak kelebihan atau kekurangan air. Pengairan sebaiknya dilakukan setelah pemupukan dilakukan. Sedangkan pada musim hujan, pengairan cukup dari air hujan.
7) Cek Offtype (Tipe Simpang)
Dilakukan setelah tanaman keluar polong. Dari polong bisa dibedakan dari warna dan panjang polong. Bila polong sudah tua, polong dapat dipecah untuk melihat ada tidaknya CVL dari warna polong.
4. Hama dan Penyakit
Hama-hama tanaman kacang panjang adalah :
1) Thrips
Thrips menyerang bagian pucuk tanaman sehingga tanaman menjadi keriting dan kering, sering juga menyerang tunas atau pucuk, sejak tanaman masih kecil hingga besar. Ciri tanaman dewasa dapat berakibat kerontokan pada bunga dan serangan terjadi pada musim kemarau.
Pengendalian thrips dengan menggunakan pestisida Winder, Promectin, Agrimec, Confidor dll dengan dosis sesuai anjuran.
2) Tungau (Mites)
Tanaman yang terserang tungau akan tampak dari daun-daun yang menggulung ke bawah, dan warnanya hijau kehitaman. Dalam kondisi parah, tanaman dapat mengalami kerontokan daun. Pengendalian dengan menggunakan Samite, Omite, Mitac dengan dosis sesuai anjuran.
3) Aphids sp.
Serangan Aphids sp. hampir sama dengan serangan thrips, hanya, bedanya jika pada serangan Aphids, daun menjadi hitam karena tumbuh jamur jelaga yang tumbuh pada kotoran Aphids. Apids dapat dikendalikan dengan Winder, Supracide dll, dengan dosis sesuai anjuran.
4) Ulat Polong.
Hama ulat bunga menyebabkan kerontokan pada bunga. sedangkan ulat polong menyebabkan kerusakan pada bagian polong. Kerusakan ini menimbulkan pembusukan bagian tersebut akibat aktifitas mikoorganisme yang berasal dari kotoran ulat tersebut. Hama-hama ini dapat dikendalikan dengan menggunakan Winder dengan dosis sesuai dengan rekomendasi.
5) Penyakit layu
Penyakit ini bias disebabkan oleh jamur Pytium maupun oleh bakteri Pseudomonas sp. Penyakit ini dapat dicegah dengan kocor dengan Kocide 77, maupun dengan semprot. Sedangkan pengendalian bakteri dengan kocor Bactomycin atau Agrimycin dengan dosis sesuai anjuran.
5. Panen dan Pasca Panen
Panen dilakukan setelah polong berwarna coklat dan umur tanaman sekitar 60-70 hari. Panen dilakukan dengan memetik polong yang sudah tua dan biji sudah mulai megeras. Kemudian dijemur diatas terpal atau dibuatkan para-para ditempat yang panas. Setelah kering dipipil dengan alat perontok, biji juga dengan cara manual yaitu dupukul/digebug. Biji hasil pipilan dikeringkan lagi dan disortir, untuk memisahkan biji yang baik dengan biji yang jelek (berlubang, kepeng, kecil).
2.1.4. Kegunaan dan Manfaat Kacang Panjang
Kacang panjang mengandung berbagai nutrisi penting bagi tubuh, di antaranya:
1. Sumber Protein
Dengan kandungan protein sebesar 8,3 gram dalam tiap 100 gram kacang panjang rebus, maka kacang panjang menjadi salah satu sumber protein nabati yang baik untuk memenuhi kebutuhan protein tubuh kita setiap harinya.
2. Vitamin B Kompleks
Dalam tiap 100 gram kacang panjang rebus mengandung 146 mcg folat (37% kebutuhan); 0,2 mg thiamin (14% kebutuhan); 0,1 mg vitamin B6 (5% kebutuhan); 0,1 mg riboflavin (4% kebutuhan); 0,4 mg asam pantotenat (4% kebutuhan); dan 0,6 mg niacin (3% kebutuhan). Berbagai vitamin B kompleks yang terkandung dalam kacang panjang tersebut merupakan nutrisi penting bagi tubuh kita.
Secara umum vitamin B kompleks memiliki fungsi penting dalam produksi energi dan fungsi saraf dalam tubuh kita, sehingga kekurangan vitamin B biasanya ditandai dengan kelelahan dan kurangnya tenaga.
3. Mengandung Serat Tinggi
Kacang panjang adalah sayuran yang kaya serat. Dalam tiap 100 gram kacang panjang rebus, terdapat kandungan serat mencapai 4 gram atau memenuhi 15% kebutuhan serat harian kita. Serat dalam kacang panjang tersedia dalam bentuk pektin, yang merupakan serat larut, sehingga sangat baik untuk membantu menjaga kadar gula darah dalam level normal, juga untuk metabolisme lemak yang normal.
2.2. Konsep Usahatani
Ilmu usahatani biasanya diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu (Soekartawi et al, 1995). Dikatakan efektif bila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki (yang dikuasai) sebaik-baiknya. Dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output) yang melebihi masukan (input). Ilmu usahatani berupaya mempelajari tritunggal manusia petani, lahan, dan tanaman/hewan, sehingga mengungkap aspek manusia (sosial), lahan (kimia, fisika atau teknik), tanaman/hewan (biologi dan budidaya) perlu diketahui.
Menurut Hernanto (1989), usahatani terdiri dari adanya empat unsur pokok yang disebut sebagai faktor-faktor produksi yaitu:
1. Tanah
Tanah mempunyai sifat-sifat khusus, diantaranya relatif langka, distribusi penguasaannya di masyarakat tidak merata, luasnya relatif tetap, tidak dapat dipindah-pindahkan dan dapat dipindahtangankan. Karena sifatnya yang khusus tersebut tanah kemudian dianggap sebagai salah satu faktor produksi usahatani, meskipun di bagian lain dapat juga berfungsi sebagai faktor atau unsur pokok modal usahatani. Tanah yang dapat dikelola dapat diperoleh sebagai tanah milik, sewa, sakap, pemberian negara, warisan dan wakaf.
2. Tenaga Kerja
Dalam usahatani, kita mengenal tenaga kerja manusia, ternak dan mekanik. Tenaga kerja manusia dibedakan atas tenaga kerja pria, wanita, dan anak-anak yang dipengaruhi oleh umur, pendidikan, keterampilan, pengalaman, kesehatan dan faktor alam seperti iklim dan kondisi lahan. Tenaga kerja usahatani dapat diperoleh dari dalam dan luar keluarga.
3. Modal
Dalam pengertian ekonomi, modal adalah barang atau uang yang bersamasama dengan faktor produksi lain dan tenaga kerja serta pengelolaan menghasilkan barang-barang baru, yaitu produksi pertanian. Dalam usahatani, yang dimaksud dengan modal adalah tanah, bangunan-bangunan, alat-alat pertanian, tanaman/ternak/ikan, bahan-bahan pertanian, uang tunai, dan piutang. Berdasarkan sifatnya, modal dibedakan menjadi dua yaitu modal tetap seperti tanah bangunan dan modal bergerak seperti pupuk, alat-alat pertanian, tanaman,uang, dll.
4. Pengelolaan (Manajemen)
Pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani menentukan, mengorganisir, dan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi yang dikuasai sebaik-baiknya dan mampu memberikan produksi pertanian sebagaimana yang diharapkan. Ukuran dari pengelolaan itu adalah produktivitas dari setiap faktor maupun produktivitas dari usahanya.
2.3. Pemilihan Cabang Usahatani
Dalam kegiatan usahatani biasanya dihadapkan pada beberapa pilihan dalam menghasilkan produk. Untuk menentukan komoditas apa yang akan diproduksi dilihat dari banyaknya permintaan pasar, dan seringkali dinilai dari opportunity cost produksi komoditas yang akan dipilih. Dapat pula dilihat dari penggunaan biaya berbagai cabang usahatani yang akan dipilih.
Dalam usahatani campuran dan terutama bila digunakan pola tanaman tumpangsari, sulit sekali untuk menyatakan jumlah biaya atau sumberdaya yang terpakai untuk menghasilkan satu komoditas. Pada dasarnya pola tanam tumpangsari tersebut dalam satu lahan diproduksi beberapa komoditas sehingga banyak biaya atau sumberdaya yang digunakan secara bersama-sama. Sebagai contoh sumberdaya usahatani seperti kerja, dibagi antara berbagai komoditi dan biasanya tidak mudah menghitung bagian biaya yang digunakan oleh cabang usaha tertentu atau tanaman tertentu dalam pola tumpangsari (Soekartawi et al, 1995)
2.4. Analisis Pendapatan Usahatani
Penerimaan tunai usahatani didefinisikan sebagai nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani. Pengeluaran tunai usahatani didefinisikan sebagai jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa usahatani. Penerimaan tunai dan pengeluaran tunai usahatani tidak mencakup yang berbentuk benda. Jadi, nilai produk usahatani yang dikonsumsi tidak dihitung sebagai penerimaan tunai usahatani. Selisih antara penerimaan tunai usahatani dan pengeluaran tunai usahatani disebut pendapatan tunai usahatani dan merupakan ukuran kemampuan usahatani untuk menghasilkan uang tunai.
Ukuran pendapatan yang juga mencakup nilai transaksi barang dan perubahan nilai inventaris atau kekayaan usahatani selama kurun waktu tertentu dapat dihitung. Pendapatan kotor usahatani didefinisikan sebagai nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Istilah lain untuk pendapatan kotor usahatani ialah nilai produksi atau penerimaan kotor usahatani. Dalam menaksir pendapatan kotor, semua komponen produk yang tidak dijual harus dinilai berdasarkan harga pasar. Pendapatan kotor usahatani dapat dikatakan pula ukuran hasil perolehan total sumber daya yang digunakan dalam usahatani.
Cara yang tepat untuk menghitung pengeluaran usahatani adalah dengan memisahkan pengeluaran total usahatani menjadi pengeluaran tetap dan pengeluaran tidak tetap. Pengeluaran tidak tetap (variable cost) didefinisikan sebagai pengeluaran yang digunakan untuk tanaman atau ternak tertentu dan jumlahnya berubah kira-kira sebanding dengan besarnya produksi tanaman atau ternak tersebut. Pengeluaran tetap (fixed cost) ialah pengeluaran usahatani yang tidak bergantung kepada besarnya produksi.
Pengeluaran usahatani mencakup pengeluaran tunai dan tidak tunai. Jadi, nilai barang dan jasa untuk keperluan usahatani yang dibayar dengan benda atau berdasarkan kredit harus dimasukan sebagai pengeluaran. Hal yang sama berlaku bagi produksi usahatani yang digunakan untuk bibit dan makanan ternak. Apabila dalam usahatani itu digunakan mesin-mesin pertanian, maka harus dihitung penyusutannya dan dianggap sebagai pengeluaran. Penyusutan ini merupakan penurunan nilai inventaris yang disebabkan oleh pemakaian selama tahun pembukuan.
Selisih antara pendapatan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani disebut pendapatan bersih usahatani (net farm income). Pendapatan bersih usahatani mengukur imbalan yang diperoleh dari penggunaan faktor-faktor produksi kerja, pengelolaan, dan modal milik sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan ke dalam usahatani. Pendapatan bersih usahatani merupakan ukuran keuntungan usahatani yang dapat dipakai untuk membandingkan penampilan beberapa usahatani (Soekartawi et al, 1995).
2.5. Analisis Penerimaan Atas Biaya (R/C Ratio)
Rasio penerimaan atas biaya adalah perbandingan antara penerimaan dengan total biaya per usahatani (Suratiyah, 2006). Rasio penerimaan atas biaya juga menunjukan berapa besarnya penerimaan yang akan diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan dalam produksi usahatani. Rasio penerimaan atas biaya produksi dapat digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan relatif kegiatan usahatani, artinya dari angka rasio penerimaan atas biaya tersebut dapat diketahui apakah suatu usahatani menguntungkan.
2.6. Teori Produksi
Produksi dapat didefinisikan sebagai proses menciptakan barang atau jasa ekonomi dengan menggunakan dua macam barang atau jasa lainnya. Hal tersebut menjelaskan bahwa untuk menciptakan suatu komoditi tertentu dibutuhkan dua atau lebih faktor produksi (input). Tidak ada suatu barang yang diproduksikan dengan menggunakan satu faktor produksi dalam memproduksi usahatani. Untuk menghasilkan produk-produk pertanian biasanya dibutuhkan faktor produksi berupa bibit, pupuk, mesin pertanian, dan lain-lain.
Fungsi produksi adalah hubungan teknis antara input dan output, yang ditandai jumlah output maksimal yang dapat diproduksikan dengan satu set kombinasi input tertentu. Pada keadaan tertentu, pengetahuan dan teknologi diasumsikan sebagai input spesifik atau dapat diidentifikasikan. Hubungan antara input yang digunakan dalam proses produksi dengan kuantitas output yang dihasilkan dinamakan fungsi produksi. Produk fisik total dapat didefinisikan sebagai jumlah output maksimum yang dapat diproduksikan oleh kombinasi input tetap dan input variabel tertentu. Input tetap merupakan faktor produksi yang tidak berubah jumlahnya walaupun tingkat output yang dihasilkan berubah. Input variabel adalah faktor produksi yang berubah sejalan dengan adanya perubahan tingkat output yang dihasilkan.
Produk fisik total berubah secara langsung dengan penambahan input variabel, tetapi biasanya dalam jumlah yang tidak proporsional. Hubungan spesifik antara input dengan output ini sangat penting. Menurut Doll dan Orazem (1984), fungsi produksi dengan satu input variabel dapat ditulis sebagai berikut :
Y = {X1|X2, X3, ……, Xn}
Keterangan :
Y : Produk fisik total
X1 : Satu atau sekelompok input variabel
X2 : Input tetap pertama misalnya lahan
Xn : Input tetap yang tidak dapat diidentifikasi atau input yang diasumsikan tetap seperti alam, curah hujan, tingkat kesuburan tanah dan lain-lain.
Untuk melihat respon kuantitas output terhadap kenaikan seluruh input secara bersamaan maka dapat dilihat dari skala hasil (return to scale). Menurut Nicholson (2002) skala hasil merupakan suatu keadaan dimana output meningkat sebagai respon adanya kenaikan yang proporsional dari seluruh input. Sebuah fungsi produksi dikatakan menunjukan skala hasil konstan (constant return to scale) jika peningkatan seluruh input sebanyak dua kali lipat berakibat pada peningkatan output sebanyak dua kali lipat pula. Jika penggandaan seluruh input menghasilkan output yang kurang dari dua kali lipatnya, maka fungsi produksi tersebut dikatakan menunjukan skala hasil menurun (decreasing return to scale). Jika penggandaan seluruh input menghasilkan output lebih dari dua kali lipatnya, maka fungsi produksi mengalami skala hasil meningkat (increasing return to scale). Pada penelitian ini, karena digunakan perhitungan per 14 m² (satu bedeng), maka asumsi yang digunakan adalah skala hasil konstan (constant return to scale).
2.7. Konsep Pasar
Secara tradisional, pasar adalah tempat fisik dimana para pembeli dan penjual berkumpul untuk mempertukarkan barang. Pasar juga digambarkan sebagai kumpulan pembeli dan penjual yang melakukan transaksi atas produk atau kelompok produk tertentu. Sejumlah segmen pasar dapat diidentifikasi dengan mengamati perbedaan demografis, psikografis, dan perilaku para pembeli. Untuk masing-masing pasar sasaran yang terpilih, perusahaan membuat tawaran pasar. Tawaran itu diposisikan di pikiran para pembeli sasaran sebagai sesuatu yang memberikan beberapa manfaat penting tertentu (Kotler, 2003).
2.8. Konsep Permintaan
Permintaan adalah keinginan konsumen akan produk tertentu yang didukung oleh kemampuan untuk membeli (Kotler, 2003). Jumlah komoditi total yang ingin dibeli oleh semua rumahtangga disebut jumlah yang diminta (quantity demanded) untuk komoditi tersebut. Banyaknya komoditi yang akan dibeli semua rumahtangga pada periode waktu tertentu, dipengaruhi oleh variabel penting berikut (Lipsey et al, 1995) :
1. harga komoditi itu sendiri;
2. rata-rata penghasilan rumahtangga;
3. harga komoditi yang berkaitan;
4. selera;
5. distribusi pendapatan di antara rumahtangga;
6. besarnya populasi.
Teori pilihan merupakan hubungan timbal balik antara preferensi (pilihan) dan berbagai kendala yang menyebabkan seseorang menentukan pilihanpilihannya. Para ekonom merumuskan model preferensi individu degan menggunakan konsep utilitas/kepuasan (utility), yang didefinisikan sebagai kepuasan yang diterima seseorang akibat aktivitas yang dilakukannya.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu Pelaksanaan Praktikum
Praktikum dilaksanakan pada hari Minggu , 6 Desember 2015 pada pukul 09.00 s/d selesai.
3.2. Tempat Pelaksanaan Praktikum
Kegiatan praktikum dilaksanakan pada hari Minggu di lahan usahatani kacang panjang yang berada di kawasan Kelurahan Banjar Sari, Kecamatan Cipocok Jaya ,Kota Serang Provinsi Banten.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam kegiatan observasi ini yaitu melalui wawancara dengan pemilik usahatani (Survei).
3.4. Subyek Praktikum
Narasumber kegiatan ini berjumlah 1 orang, yaitu: seorang bapak berumur +38 tahun, bernama pak Samuti.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Modal Usahatani
Biaya usaha tani ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu biaya prasarana produksi, sarana produksi dan tenaga kerja
A. Prasarana Produksi
B. Sarana Produksi
4.2. Analisis Biaya Usahatani
I. Biaya Produksi
B. Biaya tidak Tetap
II. Hasil Produksi Kacang Panjang
Produksi kacang panjang dalam 2 Ha untuk satu kali panen 16.000 kg
4.3. Analisis Pendapatan dan Keuntungan Usahatani
A. Pendapatan
- Hasil Panen x harga jual = 16.000 x Rp.12.000 = Rp.192.000.000
Jika dihitung pada saat harga kacang panjang sedang tinggi
- Hasil panen x harga jual = 16.000 x Rp.6.000 = Rp.96.000.000
Jika dihitung pada saat harga kacang panjang sedang rendah
B. Keuntungan
- Total pendapatan – Total biaya produksi
= Rp.192.000.000 - Rp.77.490.950
= Rp.114.509.050 (pada saat harga tinggi)
- Total pendapatan – total biaya produksi
= Rp.96.000.000 - Rp.77.490.950
= Rp.18.509.050 (pada saat harga rendah)
4.4. Analisis Titik Impas Pulang Modal (BEP)
Analisis titik impas pulang modal atau Break Even Point (BEP) adalah suatu kondisi yang menggambarkan hasil Usaha tani yang diperoleh sama dengan modal yang dikeluarkan. Dalam kondisi ini, usaha tani yang dilakukan tidak menghasilkan keuntungan dan tidak mengalami kerugian.
A. BEP Volume Produk
BEP volume produksi menggambarkan produksi minimal yang harus dicapai dalam usaha tani agar tidak mengalami kerugian
BEP Volume Produksi
= Total biaya : Harga di Tingkat Petani
= Rp.77.490.950 : Rp.12.000/kg
= 6.457,58 kg
Hasil ini menunjukkan bahwa pada saat diperoleh produksi 6.457,58 kg kacang panjang, usaha tani tidak menghasilkan keuntungan dan tidak mengalami kerugian
B. BEP Harga Produksi
BEP Harga Produksi menggambarkan harga terendah dari produk yang dihasilkan. Jika harga pasaran di tingkat petani lebih rendah daripada BEP, maka usaha tani akan mengalami kerugian. Harga BEP ini merupakan harga pokok atau harga dasar untuk pengembalian modal. Agar usaha tani untung, maka petani harus menjual produksi di atas harga dasar ini.
BEP Harga Produksi
= Total Biaya Produksi : Total Produksi
= Rp.77.490.950 : 16.000 kg
= Rp.4.843/kg
Hasil ini menunjukkan bahwa pada saat harga kacang panjang (polong segar) di tingkat petani sebesar Rp.4.843/kg, usaha tani kacang panjang tidak memperoleh keuntungan dan mengalami kerugian.
4.5. Analisis Kelayakan Usaha Tani (B/C Ratio)
Analisis Kelayakan Usaha Tani atau Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) biasa digunakan dalam analsis kelayakan usaha tani yaitu perbandingan antara pendapatan dan total biaya yang digunakan. Kriteria penilaian jika B/C > 1 maka kegiatan usahatni layak untuk dilaksanakan.
B/C Ratio
= Total Pendapatan : Total Biaya Produksi
= Rp.114.509.050 : Rp.77.490.950
= 1,48
BAB IV
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
- Modal usahatani kacang panjang dengan luas lahan sebesar 2 ha yaitu Rp.17.739.500. Dan biaya dalam usahatani kacang panjang ini terbagi menjadi dua macam yaitu biaya tetap sebesar Rp.12.365.000 dan biaya tidak tetap dengan jumlah biaya sebesar Rp.65.125.950
- Pendapatan yang diperoleh dari usahatani kacang panjang ini adalah Rp.192.000.000 jika pada saat harga tinggi (Rp.12.000) sehingga diperoleh keuntungan sebesar Rp.114.509.050 sedangkan pada saat harga rendah (Rp.6.000) pendapatan yang dapat diperoleh yaitu Rp.96.000.000 dan keuntungan yang didapat sebesar Rp.18.509.050
- BEP volume produksi usahatani kacang panjang ini adalah pada saat diperoleh produksi 6.457,58 kg kacang panjang, dimana pada saat inilah usaha tani tidak menghasilkan keuntungan dan tidak mengalami kerugian
- BEP harga produksi dari usahatani ini adalah pada saat harga kacang panjang (polong segar) di tingkat petani sebesar Rp.4.843/kg, usaha tani kacang panjang tidak memperoleh keuntungan dan mengalami kerugian.
- B/C ratio yang nilainya > 1 atau (1,48) ini menunjukkan bahwa usaha tani kacang panjang memberikan manfaat atau dengan kata lain penambahan penerimaan lebih tinggi daripada penambahan biayanya sehingga usahatani tersebut layak untuk dijalankan dan diteruskan.
5.2. Saran
Demikian gambaran umum tentang analisis usahatani kacang panjang, semoga laporan pratikum ini memberikan insipirasi dan informasi baik bagi para pembaca maupun kepada petani sebagai pelaku usaha untuk menjalankan usahatani kacang panjang secara efisien dan efektif agar mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan meminimalisir pengeluaran sekecil mngkin.
DAFTAR PUSTAKA
Boediono. 1992. Ekonomi Mikro. Bagian Penerbit Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Endang Siti Rahayu, Driyo Prasetya. 2000. Tata Niaga Pertanian. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
http://manfaatnyasehat.com/manfaat-kacang-panjang/ Diakses Minggu, 6 Oktober 2015.
http://www.bestbudidayatanaman.com/2013/11/klasifikasi-kacang-panjang-dan.html Diakses Minggu, 6 Oktober 2015.
http://www.tanamanobat.net/manfaat-dan-khasiat-kacang-panjang/. Diakses Minggu, 6 Oktober 2015.
http://www.infoagribisnis.com/2015/01/cara-menanam-kacang-panjang/. Diakses Senin, 7 Oktober 2015.
LAMPIRAN